Meja Merah Jambu di Tepian Batanghari

Khairul Jasmi

Mahahari entah di mana. Sudah senja,
tapi Batanghari semakin sibuk. Sebuah
kapal nelayan melaju menuju mudik, entah mengapa. Beberapa lainnya memancung sungai. Sungai terpanjang di Sumatra itu, tak pernah lelah menemani Kota Jambi yang terus menggeliat.
Pada Rabu (8/2) sore, saya duduk di tepian sungai ini menikmati pemandangan yang dihamparkan oleh sungai ini. Saya dengan Widya Navies dan Indra Sakti, wartawan Singgalang dan seorang teman humas dari Kota Pariaman, menikmati air tebu.
"Meja merah jambu, Pak," kata si penjual. Meja itu diletakkan di bibir sungai berderet dengan puluhan meja lainnya.

Di belakang saya jalan raya membentang menuju jantung Kota Jambi. Banyak wartawan yang datang pekan ini ke sini, karena puncak Hari Pers Nasional (HPN) dipusatkan di kota ini.
Air Batanghari yang keruh mengalir malas ke hilir. Sungai sepanjang sekitar 800 Km itu seperti sejarah yang sedang bercakap-cakap. Juga seperti sebuah pesan yang seolah tak disahuti. Di seberang sana, terlihat beberapa pabrik karet, baunya menyebar sampai ke tepian saya duduk.
Lampu telah dinyalakan, kerlap-kerlip di tepian sungai itu, terlihat indah. Sementara beberapa kapal besar menyalakan lampunya. Terang benderang.
Mata air Batanghari berasal dari Gunung Rasan dengan ketinggian 2.585 meter dari permukaan laut). Sesungguhnya hulu sungai ini, tak lain. Danau Diatas di Kabupaten Solok. Dari danau ini, air terus mengalir ke Sungai Pagu, tempat anak-anak kita mandi dan mencuci. Terus dan mengalir ke selatan dan berbelok ke arah timur. Aliran dari sungai ini melalui beberapa daerah yang ada di Sumbar dan Provinsi Jambi. Terus ke Muaro Sabak dan bermuara ke laut lepas.
Sesungguhnya Batanghari adalah kisah kita-kita juga. Tentang panen, tentang ikan-ikan juga perihal hujan dari langit. Air Batang Sangir, Merangin, Tebo dan Batang Tembesi semua masuk ke Batanghari. Di Dharmasraya sungai ini menjadi bagian sejarah yang hebat. Juga di Jambi.
Di tepian sungai itulah saya duduk menikmati senja di sebuah meja merah jambu. Seperti hendak mendahului sesuatu yang hanyut, atau bahkan mengejarnya.
Malam telah datang, Kota Jambi terlihat sangat sibuk. Hari ini Presiden SBY dan belasan menteri akan datang guna menghadiri puncak HPN. Kota ini dibentuk berdasarkan ketetapan Gubernur Sumatra nomor 103/1946, tanggal 17 Mei 1946.
Kemudian ditingkatkan menjadi kota besar berdasarkan Undang-undang nomor 9 tahun 1956 tentang pembentukan daerah otonom kota besar dalam lingkungan daerah Provinsi Sumatra Tengah. Kemudian Kota Jambi resmi menjadi ibukota Provinsi Jambi pada 6 Januari 1957 berdasarkan Undang-undang nomor 61 tahun 1958.
HPN
HPN bagi Jambi adalah sebuah alek besar. Mungkin karena itu Bendera Merah Putih dikibarkan di depan setiap rumah warga di sini. Suratkabar setempat serta televisi menyemarakannya. Hotel-hotel penuh. Beberapa delegasi tak kebagian kamar. Jikapun dapat, harus rela tiga orang sekamar.
Kami dari Padang berangkat dengan bus milik Pemprov Sumbar yang rancak. Sepanjang jalan sedapatnya kami berkaraoke, karena di atas bus memang tersedia. Tapi tidak, mata mengantuk tidak bisa dilawan. Perjalanan yang seharusnya 8 atau 9 jam saja, kami selesaikan 14 jam.
Ini disebabkan di Muaro Kalaban, Selasa malam lalu, sebuah pohon besar tumbang, kami terpaksa menunggu petugas menggergaji pohon itu sekitar 2 jam. Selain itu, Jalan Lintas Sumatra di wilayah Sumbar banyak yang buruk. Menyedihkan.
Jika saja, ada jalan mulus di punggung Sumatra ini, maka jarak akan semakin pendek. Mungkin mimpi ini, akan jadi kenyataan di zaman cucu oleh cucu saya kelak. Lebih cepat lebih baik. Tergantung Pak SBY. (*)

Sgl 09 Feb, 2012


-
Source: http://hariansinggalang.co.id/meja-merah-jambu-di-tepian-batanghari/
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com
thumbnail
Judul: Meja Merah Jambu di Tepian Batanghari
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh

Artikel Terkait :

 
Copyright © 2013. About - Sitemap - Contact - Privacy
Template Seo Elite oleh Bamz